everyone has devil inside them, i just let mine out more than everyone else :))
Today someone asked me if I missed you. I didn't say anything. I just turned and walked away, and whispered to myself, "So much".
I don't know when I will talk to you again. but I hope it's soon cause I really miss the sound of your voice.
why do I miss you? Because you make me smile. You are so kind. You are so sweet. You are funny. And most of all, because you are not texting me anymore. That's Y.
when I think back, of all memories, i shed a tear cause i know it will never be the same. So much has changed since then, I miss you so much.
I tried 2 forget u but it never works. All our memories rushing through my head, make me cry and I just can stop. Goes to show how much I love you a lot.
Saturday, March 29, 2014
Saturday, March 15, 2014
Gemercik Warna Indah
"Peluh datar warna hidupku. Semasa janji tidak berkabut. Perling-perling senja nyatanya kudapat selalu, tiada satu hampa ataupun kecewa. Kubahagia dengan nuansa ini. Sungguh, mentari begitu mudahnya berpendar melalui celah jendela yang membias sempuran."
Kau tulis kalimat dahsyat berirama itu. Setiap huruf kau ukir dalam catatan harian yang tak pernah sekali pun berdusta kepadamu. Kau patut acungkan keempat jempolmu untuk mewakili rasa syukurmu atas kesetiaannya.
Kau tumpukan kedua tangan untuk bertopang dagu. Kau tatap lembayung indah di atas langit. Begitu indahnya kota Kediri, meski kerap kali dianggal kecil dan penuh petuah-petuah palsu. Nyaman nian dirimu bisa menikmatinya setiap hari. Bahkan selama 13 tahun ini, kau isi dengan kegiatan relaksasi macam itu.
"Rei, kau tak ingin ikut?" tanya ibu dengan nada lembut.
"Tidak, Bu. Aku ingin menikmati goresan warna jelita itu!" tunjukmu, sumringah.
"Kau terlalu hanyut dengan nuansa sore ini, Reina," belai ibu hangat.
Kau tersipu, walau dalam hati kecilmu merasa risih dengan kedatangannya karena berpuluh-puluh kali ibu selalu saja melontarkan gumaman seperti itu.
Kau tatap lebih jauh. Ada kilat cahaya berkilau yang begitu anggun. Kalanya, kau semakin hanyut, hingga kau tak sadari, helaian buku diarimu bertebaran, mengikuti pusaran jingga.
Kau tulis kalimat dahsyat berirama itu. Setiap huruf kau ukir dalam catatan harian yang tak pernah sekali pun berdusta kepadamu. Kau patut acungkan keempat jempolmu untuk mewakili rasa syukurmu atas kesetiaannya.
Kau tumpukan kedua tangan untuk bertopang dagu. Kau tatap lembayung indah di atas langit. Begitu indahnya kota Kediri, meski kerap kali dianggal kecil dan penuh petuah-petuah palsu. Nyaman nian dirimu bisa menikmatinya setiap hari. Bahkan selama 13 tahun ini, kau isi dengan kegiatan relaksasi macam itu.
"Rei, kau tak ingin ikut?" tanya ibu dengan nada lembut.
"Tidak, Bu. Aku ingin menikmati goresan warna jelita itu!" tunjukmu, sumringah.
"Kau terlalu hanyut dengan nuansa sore ini, Reina," belai ibu hangat.
Kau tersipu, walau dalam hati kecilmu merasa risih dengan kedatangannya karena berpuluh-puluh kali ibu selalu saja melontarkan gumaman seperti itu.
Kau tatap lebih jauh. Ada kilat cahaya berkilau yang begitu anggun. Kalanya, kau semakin hanyut, hingga kau tak sadari, helaian buku diarimu bertebaran, mengikuti pusaran jingga.
Saturday, March 8, 2014
pesan singkat
Aroma rosela memang menyegarkan. Apalagi jika dihirup dalam-dalam. Akhirnya aku ada dalam sebuah tempat yang sangat istimewa, penuh bunga, lebih dari sekedar rosela yang sering kujumpai.
Kadang aku merasa, hidupku hanya untuk menikmati secangkir rosela.
...
...
...
Nikmat juga, mencampurkan rosela dengan susu manis yang sangat gurih.
Senja datang, ada aku dan rosela yang menemani.
Jika nanti aku memiliki anak perempuan, aku akan menamainya Rosela, agar ia bisa kupandang setiap hari, sebagaimana aku memandang bunga-bunga rosela yang sedang bermekaran.
Rosela yang gagal panen bagiku cukup menenangkan.
Satu keinginanku, aku ingin menyimpan bunga-bunga rosela di sekitar tempat tidurku, agar kelak aku terbangun, pertama yang kulihat adalah rosela, serta yang paling pertama kuhirup adalah aromanya.
Kadang aku merasa, hidupku hanya untuk menikmati secangkir rosela.
...
...
...
Nikmat juga, mencampurkan rosela dengan susu manis yang sangat gurih.
Senja datang, ada aku dan rosela yang menemani.
Jika nanti aku memiliki anak perempuan, aku akan menamainya Rosela, agar ia bisa kupandang setiap hari, sebagaimana aku memandang bunga-bunga rosela yang sedang bermekaran.
Rosela yang gagal panen bagiku cukup menenangkan.
Satu keinginanku, aku ingin menyimpan bunga-bunga rosela di sekitar tempat tidurku, agar kelak aku terbangun, pertama yang kulihat adalah rosela, serta yang paling pertama kuhirup adalah aromanya.
K.K.E.B
| W | : | Katakanlah, Ton. Apa sebab aku selalu merindukanmu? Padahal aku benci kamu! |
| T | : | Kalau rindu, aku juga begitu, Win. Tapi itu tak menggugurkan fakta bahwa kita beda bak langit dan bumi. Untuk apa bersama kalau kita selalu bertengkar? |
| W | : | Karena kamu tak mau mengalah. |
| T | : | Bukan aku tak mau mendengar. Aku hanya tak mau membiarkanmu mengembangkan jalan pikiran yang kacau. Justru karena sayang kamu. Kalau aku tak sayang, ngapain aku pusing-pusing? Mau berpikir dengan cara apapun, itu urusanmu...! |
| W | : | Mengapa kebenaran harus selalu datang dari perspektifmu? |
| ... |
Subscribe to:
Posts (Atom)