Pages

Saturday, May 12, 2007

untuk kesekian kalinya, saya ga mau dipoto

Kali ini saya akan cerita mengenai kejadian menarik (bagi saya), yang tentunya PERLU (TIDAK) DICONTOH.
Sekitar dua tahunan yang lalu, saya menghadiri pernikahan seorang teman masa sekolah dulu. Seorang teman sekolah yang benar-benar luput dari ingatan. Cukup memalukan, karena yang bersangkutan ternyata masih ingat dengan saya.
Namun sebaliknya dengan saya. Tak sedikitpun memori tersisa tentangnya. Beban moral -otomatis- tersandang di pundak. Saat mendapat info via fesbuk bahwa dia akan menikah, langsung saya
telepon. Sudah pasti dia mempersilakan saya datang. Yang jadi masalah itu adalah saya. Kenapa? Karena cuma beberapa teman saja yang tau kalo saya (waktu itu) berambut panjang, alias gondrong. Jauh dari imej saya semasa sekolah. Dan sudah pasti, teman saya yang akan nikahan tersebut bisa terkejut.
Tidak apa-apa sebenernya, hanyaaaa…umumnya orang masih berpendapat kalo cowok gondrong tu jauh dari asumsi positif.
Anda paham maksud saya, kan?
Well, resiko yang musti saya terima (lalu telan).
Tepat hari H, dan waktu yang on time juga, saya hadir di pesta pernikahan teman saya tersebut. Anda tentunya sudah dapat membayangkan, seorang cowok gondrong, pake jins, kemeja army look datang ke sebuah pesta pernikahan dimana semua tamu berpakaian resmi.

Tidak ada yang meluputkan pandangannya. Bahkan ada teman lain yang jadi teman masa sekolah (pernah satu kelas lagi) juga hadir, namun enggan menyapa. Ya deh…saya maklum kok.
Dari waktu acara yang pukul 20.00, saya pikir sudah temu manten, ternyata mempelai pria belum datang, sementara sebelum pukul 21.00 saya harus mengejar bus untuk balik ke kota yang jadi ladang bagi isi saku saya. Tidak perlu basa-basi lagi, menjelang setengah sembilan malam, saya pamit. Protokoler yang mempersilakan setiap tamu untuk berfoto dengan pengantin, saya tolak. Alasan saya, …saya tidak pantas. Ngisin-isini (malu-maluin).
Lha malu-maluin tapi kok tetap hadir? Lha iya itu tadi tow. Bagi saya pribadi, kalo ada teman lama yang masih inget saya, namun -sialnya- saya malah tidak inget alias lupa…itu adalah hal yang memalukan bagi saya. Sangat memalukan.

Berikutnya adalah beberapa hari yang lalu. Ketika seorang kerabat dekat menyelenggarakan pesta pernikahan untuk putri sulungnya. Dan kali itulah, saya juga MENOLAK untuk berfoto bersama pengantin.
And this time my reason really needs no objection. Banyak sekali yang dapat saya tuturkan disini. Antara lain:
  • Kerabat tersebut TIDAK PERNAH ikut bantu-bantu ketika dulu ada hajatan di keluarga besar ibu saya. Dan ada saja alasannya, yang ga enak badan kek, sedang pergi kek…apa kek. Namun di saat, jamuan sudah matang semua, mereka ada di urutan nomor satu di depan meja hidangan. Ambil piring, sendok sayurnya…makannnn. Enak tenannnn… :-P
  • Masih terekam dengan jelas (meski saya tidak menyaksikan secara langsung, namun adik-adik saya bukan tipe orang-orang yang mencari masalah) ibu saya menangis karena dimarahi mbakyu-nya, setelah mendapat “aduan” dari kerabat saya tersebut.
  • Budaya Jawa mengajarkan untuk menghormati saudara yang lebih tua, namun di mata saya, kerabat saya tersebut tidak mengindahkan hal itu. Bagi mereka, materi-lah yang jadi ukuran. Kerabat yang beruang-lah yang dihormati.
Masih banyak kejadian lainnya yang dapat saya tuturkan disini, namun tiga hal yang saya sebutkan sebelumnyalah yang lebih mencolok untuk saya jadikan pertimbangan (tentunya juga sesuai dengan judul...:-P)

No comments:

Post a Comment