sudah hampir tengah malam. nyanyian kodok yang bersahutan seolah menertawakan kepenatan yang menghinggapi tubuhku. tadi sore hujan lagi. tidak seperti malam sebelumnya, sore itu hujan mengawali tingkahnya dengan mengguyur sebagian sisi kota. namun setelah maghrib, tanpa ampun seluruh kota dibasahinya. tampak dari dua pesan yang masuk ke ponselku. "kene udan bro. lumayan deres. sesuk ae pie?". sementara yang satu "pie pa to, kene sek udan."
"Ya" untuk jawaban pesan pertama. dan "ngenteni udan ae, Mas. yen sekirane ra nutut, dino minggu ta'installne." untuk jawaban pesan kedua. kupandangi laptop di depanku. antara membuka Notepad atau aplikasi SE cukup membuatku termenung lama.
sesaat aku merasa hawa terasa pengap. kubuka pintu sedikit. angin tampak malu-malu untuk masuk. agak mendingan. namun konsekuensinya adalah koor para kodok semakin terdengar. tak sadar kuraih ponselku. kubaca pesan yang kuterima sekitar pukul enam sore tadi.
sekilas -menurutku- terselip keingintahuan. namun bagiku, kontradiktif sekali. Mengapa harus menjauh? Mengapa harus ada "kambing hitam" (istilahku) sebagai penyebab? Dua kalimat dengan dua respon yang ... laiknya filosofis pedang bermata dua.
Apakah aku tampak seperti orang yang cenderung menyalahkan orang lain?
Kurebahkan tubuhku di karpet. Kuhirup napas dalam-dalam. Sambil memejamkan mata, kuingat-ingat siluet wajahmu saat bertemu tempo hari.
Aku benar-benar tidak kuasa untuk melupakan senyummu.
No comments:
Post a Comment