Pages

Thursday, May 26, 2011

Hoaheemmm....

Pintu rumah belum kututup. Rupanya kedua piaraan adikku memanfaatkannya untuk beringsut merebahkan diri di keset yang ada di dekat pintu. Letak keset itu ada di bagian dalam rumah. Melihat tindak-tanduk mereka, jelas hawa di luar lumayan dingin.

Acara di televisi yang dipandu oleh host fenomenal sudah mulai. Tampak sesekali dua makhluk berkaki empat itu bercengkrama dengan bergulat di atas keset. Si putih masih tampak waspada dengan selalu melihat ke arahku. Ya, dia sudah tidak terlalu mau untuk dipegang sekarang. Sebaliknya, si hitam yang jelas-jelas mempunyai bulu lebih halus, ekor lebih panjang plus badan yang agak chubby malah terlihat santai-santai saja. Terlebih lagi bila dia melihat sekelebat ayahku. Manja habis.

Camilan yang kubeli di swalayan waktu jalan-jalan sore tadi udah pindah ke toples. Menanti waktu untuk jadi santapan kalau-kalau aku tidur larut.
Ya, aku tidak merokok. Minum kopi bisa dibilang hampir tidak pernah, alias jarang. Gantinya, aku kuat begadang kalau ada camilan -segala macam yang disebut camilan dan bisa dimakan- ada di dekatku.

Sesaat tadi, program di televisi yang kulihat mengawali acaranya dengan menampilkan para penari dari saudara kita yang ada di ujung timur Negara Kesatuan Republik Indonesia, Papua. Tentunya mereka menampilkan tarian khas kebanggaan Papua khususnya, dan kebanggaan Indonesia. Kebanggaan bagi mereka yang -semoga- masih memiliki rasa nasionalisme. Rasa yang menurutku semakin tergerus habis seiring dengan berjalannya waktu.

Kualihkan lirikan bola mataku ke arah dua kucing yang nampaknya sekarang terkantuk-kantuk. Memang, mereka terlihat ngantuk, matanya sudah merem. Namun itu bukan berarti mereka mengurangi rasa keterjagaan mereka. Lihat, kuping-kuping mereka masih tegak berdiri.

Pengin bukti? Hehehe… kuraih penebah (sapu lidi, namun digunakan untuk keperluan di dalam rumah, seperti membersihkan tempat tidur). Tanpa ba-bi-bu, aku pukul-pukulkan ke lantai yang beralas karpet warna hijau. Sontak kedua kucing itu terperanjat. Si hitam cuma melek dan bangun, namun si putih sudah 3-4 langkah dari tempatnya semula (mau kabur kali…)

Seringai yang kuberikan hanya mendapat tatapan kaget dari si putih. Mungkin kalau dia bisa berbicara, umpatanlah yang keluar dari mulutnya.
Kembali ke acara televisi yang sedang “kunikmati”. Yang membuat aku betah menonton acara tersebut adalah gaya pembawa acara yang bisa jadi pada waktu awal-awal acara tersebut populer, karena dia menampilkan sesuatu yang benar-benar beda waktu itu. Dimana saat itu, pembawa acara identik dengan imej yang tampan/cantik, keturunan (indo),…dimana kesemuanya itu -menurutku- bisa memunahkan ras Melayu di kawasan bumi pertiwi ini.

Ciri khas (dari segi fisik) ras Melayu, tampak inferior di televisi. Mulai dari presenter, aktor-aktor sinetron, dan sebagainya. Kusebut itu “investasi buleisme”.
Eh, rupanya the Godmother mengetahui kalau duo berkaki empat masih di dalam rumah. Segera kukeluarkan mereka daripada mendengar omelan the Godmother.

Sekilas sudut mataku melihat lampu hapeku berkedip. Pesan masuk. Empat pesan dari dua pengirim yang berbeda.
Tak sengaja aku mengganti ke saluran televisi ke cenel yang lain. Sebuah film Mandarin yang tentunya juga sayang untuk dilewatkan, karena pemain utamanya adalah Jet Lee, satu dari beberapa aktor favoritku.

Patut disimak disini. Jet Lee tidak pernah mendapat peran antagonis selama membintangi film-film Mandarin. Peran sebagai hero yang tidak mudah terkena serangan atau jurus-jurus lawannya. Namun, kala dia ekspansi ke Holywood, sangat pahit bagiku melihat dia memerankan tokoh antagonis. Terlebih salah satu filmnya (produksi Holywood), dia berperan bak seekor binatang piaraan meski ending-nya dia mendapatkan perlakuan manusiawi. *sweatdrop*

Hoaheemmm…pasukan kantuk sudah menebar jaring-jaringnya. Segera kukirim sinyal singkat ke jari tanganku yang memegang remote televisi. Dan seperti biasa, hanya ibu jari-lah yang bisa lebih cepat menekan tombol OFF.
Subhannallah. Konsep “Ibu” benar-benar menunjukkan ke-mahakuasa-anNya.

No comments:

Post a Comment