Pages

Friday, October 7, 2011

waiting at the dock

Panas yang sedemikian teriknya membuat makhluk itu tak kuasa untuk merebahkan badannya yang membuncit di keset pintu depan. Semilir angin yang datang dari arah selatan menambah kantuknya semakin terasa. Matanya menyipit,…hampir tertutup.
Ekornya yang panjang dikibas-kibaskan, sekedar supaya orang tahu dia tidak terlelap. Namun, bagi orang yang hafal perilaku kucing, bukan ekor yang menjadi acuan, melainkan telinga.

Telinga yang tegak dan kadang sedikit bergerak-gerak menandakan makhluk berkaki empat tersebut masih dalam kondisi siaga. Tidak percaya? Silakan coba menjentikkan jari di belakang kucing yang lagaknya tertidur. :-D
Jaraknya ga usah terlalu dekat, namun suara jentikan jari cukup bisa didengar.

Hidup di tengah lahan, mestinya menempatkannya sebagai predator terakhir di rantai makanan. Namun ada perasaan aneh yang muncul kala dia menggugah naluri kebinatangannya.
Bisa jadi dia cukup bersyukur mendapat majikan yang tidak pernah lupa memberinya makan. Meski kadang tidak teratur, sehari sekali, sehari dua kali. Tak perlu dia merisaukan. Mati pun sudah terpikirkan olehnya, mengingat kala belum genap berumur sebulan, dia sudah menyaksikan saudaranya mati di bawah pohon pisang. Seperti biasa, seleksi alam.

Sebentar lagi, anak-anak majikan pulang dari sekolah. Saat itulah dia berkesempatan untuk mengeong minta jatah. Kalaupun tidak ada, dia akan bersabar, menunggu sampai sore hari, ketika majikannya pulang dari kerja.

Sampai pada suatu sore, dia melihat makhluk bersayap, yang sejatinya adalah mangsanya. Namun dia merasa aneh ketika melihat makhluk bersayap itu. Naluri predatornya tidak tergugah sama sekali. Malah yang muncul adalah kekagumannya. Burung itu tidak sendirian. Dia bersama seekor anaknya yang masih kecil. Sang induk cukup siaga dengan memperhatikan suasana sekitar. Anaknya bermain-main mengelilingi induknya. Tidak sedikitpun ada rasa khawatir meski pada jarak tidak kurang sepuluh meter ada makhluk yang notabene adalah predator bagi spesiesnya.

Si predator yang kali ini tidak mungkin bisa disebut sebagai predator lagi, hanya bisa memperhatikan gerak-gerik induk dan anak burung itu. Ekornya berhenti mengibas-ngibas. Dia coba mendekat, tidak dengan tindak-tanduk mau menyerang, namun lebih pada perilaku bahwa dia sudah mengenal lama sang induk burung.

Sang induk burung sendiri juga tidak merasa akan diserang. Praktis dia membiarkan makhluk berbulu berkaki empat itu mendekat. Tak ayal, di jarak kurang dari satu meter, kucing itu merebahkan badannya di atas tanah.
Jelas sudah dia hanya ingin menikmati suasana kekeluargaan induk burung beserta anaknya itu. Hal yang jarang dia dapatkan selama ini.
Ada perasaan bahagia menyelimutinya kala dia merasa bahwa sang induk merasa nyaman bila dia mendekat. Sebuah rahasia Illahi yang manusia pun tidak bakal memahaminya.

Sejak saat itu, setiap sore si kucing -entah perutnya sudah terisi apa belum- selalu menanti kedatangan induk burung beserta anaknya. Dan yang dilakukannya kurang lebih tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

Malah terkadang, saat malam hari, kedua matanya yang awas, melihat kelebatan induk burung melintas di depan rumah. Dia yang (masih) merasa tidak terpuaskan di sore hari, seringnnya berlari menyusul. Demi melihat kemana induk itu terbang. Satu hal yang pasti ada di benaknya, apakah anaknya baik-baik saja. Kalau mereka satu spesies, mungkin dia akan berteriak menanyakan keadaan si anak burung.

Pada suatu malam, si kucing terkejut mendapati sang induk berada persis di depannya. Dinginnya malam yang senantiasa menemani kesendiriannya selama ini seolah pupus oleh kibasan sayap sang induk kala mendarat di sampingnya. Meski mereka berbeda bangsa, namun kuasa Illahi-lah yang menyatukan benak mereka melalui mata bulat si kucing dengan mata tajam sang induk burung.

Cukup lama mereka saling berpandangan. Benak mereka saling bertaut. Entah siapa yang mengawali, sang induk sudah merebahkan kepala mungilnya ke tubuh si kucing. Sebuah tindakan yang sangat beresiko menurut nalar wajar. Bukan tidak mungkin si kucing bisa mendadak muncul nalurinya sebagai predator burung yang tidak ayal dapat membuat sang induk menjadi sasaran yang benar-benar empuk di malam hari.

Si kucing yang segera dapat menguasai keadaan, hanya dapat membiarkan perilaku sang induk burung. Sesaat nalurinya mendadak muncul, namun pengalamanlah yang membuatnya mampu membunuh nalurinya sendiri. Di awal, dia punya dua pilihan. Membiarkan naluri pemangsanya muncul atau untuk kesekian kalinya dia harus melakukan pertempuran hati.
Yang pertama, tentunya mudah. Namun dampaknya dia tidak akan mendapat kesempatan kedua karena apa yang sedang dialaminya saat itu adalah benar-benar hal di luar kondisi normal. Sudah jadi kersaning Gusti Allah.
Sementara pilihan terakhir, membuatnya berperang melawan semua kondisi normalnya, menerjang prinsip-prinsip yang selama ini dipegangnya, menutup mata batinnya dari semua hal yang menjadikannya sebagai pemangsa makhluk yang sekarang sedang bersandar di tubuhnya. Tapi dia merasa (dan berharap) semuanya itu akan setimpal dengan apa yang akan diperolehnya nanti.

Dia tidak akan sendirian lagi di malam hari. Dia tidak akan merasa kedinginan tiduran di keset pintu. Dia bisa menemukan dunia lain dari dunia yang selama ini dikenalnya.

Sang induk tidak perlu berlama-lama singgah. Tentu saja, karena anaknya akan mencarinya kalau dia terlalu lama meninggalkan sarang. Tidak perlu waktu yang lama bagi si kucing untuk mengetahui dimana sarang burung tersebut. Dia hanya perlu berjalan melewati lahan di sebelah barat rumah majikannya dan melintas tembok tinggi. Di situ ada pohon mangga besar. Dia cukup mendongak dan menghitung dahan ukurannya sebesar tubuhnya. Satu…dua…tiga…di ujung dahan yang nomor tiga itulah kalau dia mau mengamati, sarang burung itu berada. Tampak tersamar oleh dedaunan.

Si kucing bisa meluapkan kegembiraannya sekarang. Setiap hari, tidak henti-hentinya dia menyempatkan melihat sarang burung tersebut. Diabaikannya resiko bahwa daerah tersebut bukan teritorialnya.
Seingatnya, dulu dia pernah dikejar kucing yang badannya hampir tiga kali lipat besar tubuhnya. Malah terkadang kucing hitam besar itu sengaja mampir melintas di depan rumah majikannya. Tidak jarang dia harus berjibaku sendiri kalau kucing edan itu timbul niatnya untuk mengajaknya berkelahi.

Namun kondisinya sekarang berbeda, mati pun dia rela. Karena dia mendapat kebahagiaan yang tidak mungkin didapatkannya selama ini. Melihat sang induk berceloteh dengan anaknya kala dia mendapati mereka di atas sarang. Atau kalau sore mereka dolan ke halaman rumah majikannya. Atau malah, kejadian malam seperti yang sebelumnya.

Sayangnya, dia tidak menyadari (atau lupa kali, ya?) bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang kekal. Cukup lama dia tidak mempunyai kompetitor, hal itu yang membuatnya cenderung menjadi pecundang. Ketika pada suatu sore, sang induk yang kali ini tanpa anak semata wayangnya. Bertanya pun tak mungkin dan takkan sempat, karena batinnya berkecamuk hebat. Matanya yang salah lihat atau dia yang terlalu banyak berharap. Di jarak yang sedemikian, sang induk memberinya isyarat bahwa bisa jadi itu adalah pertemuan mereka yang terakhir. Dia hanya perlu memunggungi si kucing, karena dia tidak mau si kucing membaca pikirannya lewat pandangan matanya. Sang induk burung tidak perlu berlama-lama berada di situ. Beberapa hirupan nafas, dikepakkanlah sayapnya. Si kucing, yang sialnya benar-benar tidak menyadari hal itu, hanya dapat terpana melihat kepergian sang induk burung. Dia mencoba berlari menyusul sekuat tenaga. Namun saat akan melompati tembok, dia mendadak terhenti. Rasionya mengekangnya cukup keras, mengingatkannya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tak urung langkahnya terhenti. Tak perlu si kucing menarik napasnya dalam-dalam. Dia musti balik. Meneruskan kejarannya hanya akan memanjakan egoisme-nya. Dan dia tidak ingin itu terjadi.

Dengan langkah terhuyung dan pandangan kosong, dia merebahkan badannya di keset pintu depan. Tidak ada yang bisa dia lakukan saat itu selain menata kembali napasnya yang tidak beraturan. Ya, saat ini yang menjadi prioritasnya adalah menata kembali napasnya. Setelah itu menata kembali pikirannya. Bahwa apa yang terjadi, apa yang dialaminya saat ini semestinya bisa membuat dia tetap optimis bahwa masih ada hari esok. Berharap lebih pun, sekalipun commit, tetap harus berpijak pada realita.

Kali ini bukan keajaiban atau hal-hal yang magical yang diperlukan, dia hanya perlu melakukan rutinitas sehari-hari. Namun kali ini bisa dikatakan berbeda. Dia bisa lebih optimis menunggu sore hari tiba. ^_^

No comments:

Post a Comment