Pages

Thursday, December 22, 2011

masihkah dia bersamamu?

A living-manual guide. Seringnya kita tidak atau belum menyadari arti kehadirannya. Sejak masih kecil? Wajar lah. Belasan tahun? Kita terlalu sibuk mewarnai dunia. A matured aged? Beruntunglah bagi mereka-mereka yang telah menyadarinya.


Karena bisa dikatakan, apa yang menjadi kodrat dan kewajibannya sering disalahartikan dengan “kemanjaan semu”. Lebih parah lagi apabila kita giliran ber-transform menjadi dirinya, namun masih “tertanam” dengan baik di dalam pikiran kita, “toh nanti makan pagi ada yang masakin”, “toh si kecil ada yang njagain bentar nanti”, dan segudang toh-toh lainnya, “keterpelesetan” kita.

Kita menjadi dewasa, perbedaan pendapat itu memang wajar… dan perlu. Kita manusia biasa, tidak ada yang sempurna. We may being a stubbornhead, we may do act strictly…coz she will definitely bear that. But the question is, could we bear as she does to us? I don’t think so.

Itu yang sering kita lewatkan, ketika siklus hidup sudah mulai terasa. Pengecualian bagi mereka yang “kurang beruntung” tidak mendapatkan sosok “divine guardian” (meski pada kenyataannya, yang “kurang beruntung” adalah mereka yang lupa bersyukur bahwa mereka masih memiliki orangtua)

Mom?
Umi?
Bunda?
Ibu?

No comments:

Post a Comment