Pages

Monday, September 19, 2011

akhirnyaaaaa....

Akhirnya kuputuskan untuk retreat for a while. Mundur sementara. Pengharapanku untuk yang terbaik tetap berlaku, namun bila berkaca dari kejadian yang sudah-sudah, berencana untuk yang terburuklah yang seharusnya sudah set up. Sekilas, redaksi “berencana untuk yang terburuk” seolah-olah menyiratkan ada “inisiatif” untuk melakukan tindakan yang buruk (attempt an unappropriate act). Dan celakanya, cuma segelintir orang yang mampu memahami dimana seyogyanya arti dan tujuan dari kalimat “berencana untuk yang terburuk” tersebut.


Gambaran sekilas, cenderung menjadi dasar pertimbangan untuk menilai sesuatu/seseorang. Itulah sebabnya ketika pertama kali aku menerapkan prinsip “hope for the best, plan for the worst”, ujaran kedualah yang ditimpakan balik kepadaku…, sebagai sarkasme. Sarkasme bahwa otakku hanya berisi iktikad-iktikad yang jauh sekali dari koridor benar. Bahkan tanpa ampun, orang-orang di ring satu dan ring dua. Ring tiga?..., tanpa kecuali. *perfecto*

Untuk itulah, kupikir tidak perlu -highly recommended-, mengutarakan secara eksplisit what will I gonna do, kalau sejatinya ogah dianggap “wong sing pikirane elek” (orang yang berpikiran buruk,…busuk malah). Ada konsekuensi ga? Jelas. Anda, kalian, pembaca yang budiman, ibu-bapak sekalian akan melihatku sebagai sosok klemar-klemer, lelet, atau goblok. Seandainya boleh bertanya balik, “Bagaimana perasaanmu ketika mendapat judgement/perlakuan seperti itu?”. Jangan katakan kalau Anda “mampu menerima”. Itu (jelas) klise. Klise tak lebih dari sebuah negatif film. Bahkan, film pun tak lebih dari manifestasi sandiwara, kan?

Saat-saat dimana I’m getting to lose control, adalah saat terbaik untuk membuat evaluasi. Setiap rencana,…adalah antisipasi dari kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin bakal terjadi. Apakah Anda, mengharapkan hal yang buruk terjadi? Tentu tidak bukan? Are we waiting for the bad things happen initially, then we respond in turn? Bah! Don’t make me laugh. We have brain, not knees. *LOL*

Tanpa permasalahan, kita tidak akan pernah dewasa. Bukan dalam artian, kalau tidak ada permasalahan, terus kita mencari-cari masalah. Ya tidak apa-apa, sih. Asal konsekuen. Bicara/ngetik memang mudah. Laiknya orang jualana obat di tempat-tempat keramaian. Sebenarnya istilah dewasa -menurutku- menyempitkan arti dewasa itu sendiri. Matang, lebih tepatnya. Sekarang sudah banyak anak-anak -katakanlah- usia lanjutan pertama, tapi sudah ter-karbit behavior-nya menjadi orang-orang dewasa. Well, perilaku-perilaku yang baik tidak perlu kujelaskan luas (=panjang lebar) disini. Membahasnya malah juga akan menjadi topik hambar. Justru hal-hal yang tidak baik, musti mendapat tempat di rak yang HARUS TERLIHAT jelas oleh konsumen. Karena motivasi, lebih kuat datang dari apa yang disebabkan oleh hal-hal buruk, bukan karena pengaruh dari hal-hal yang baik. Close to sarcasm, I think. Luwih penak njentepne timbang ngarahne.

Implikasi yang kudapat dari apa yang selama ini sudah sah sebagai GBHN-ku, tidak semuanya mengenakkan. Bisa jadi ya itu tadi, first impression of “plan for the worst”. Bukan pada antisipasi, namun ke motivasi. Sakrepotan tow? Hanya courage-ku lah yang justru membuat kenyang. Nggak makan nasi pun tidak apa-apa, selama asupan minum tetap terjaga. Hehehehe ;-P. Apapun, kita mengharapkan semuanya berjalan dengan baik dan lancar. Kalau tidak sesuai dengan yang diharapkan, atau orang Jawa bilang mbleset?

Never give up, then. ^_^

No comments:

Post a Comment