memang,
kemarau kali ini lumayan panjang. Cuaca siang dan malam seolah serasa di daerah padang pasir. Siang yang begitu panas menyengat, sementara malam tanpa kompromi dengan udaranya yang dingin menusuk tulang.
Keadaan ini juga sedikit banyak membingungkan chemistry reading-ku. Mungkin karena aku yang ga terlalu aware, alias cuma mengandalkan naluri.
Celakanya lagi, pindaian mata masih textbook. Sebenernya wajar sih, asal ga ketauan aja. Hehehe… Tengsin lah kalo terjadi beneran.
Kupikir dengan dua pertanyaan “interogasi” -biasanya- bisa tau what’s actually goin’ on, nyatanya sampai lima kali,….tak satupun jawaban yang kuperoleh.
well, ternyata dia “berbaik hati” memberikan bocoran. Meski jarak sudah tidak memungkinkan lagi untuk membahas lebih lanjut.
-tutt- *satu pesan masuk*
ternyata kademen ki mau mergo luwe alias lapar.
[17:10:27 - 11.09.2011]
satu pernyataan officially tertulis dan kusimpan di folder “Save Messages”.
Namun sia-sia saja, mengingat privilese yang kuberikan, ditolak.
Sekian, terimakasih.
No comments:
Post a Comment