Pages

Monday, November 7, 2011

a-n-e-h



Aneh. Kenapa aku (harus) menghadiri pertemuan di balai desa? Surat undangan tidak ada. Tapi tulisan yang ada di secarik kertas yang kupegang juga tidak salah. Tertera namaku disana. Ada juga nama orang-orang yang kukenal. Kalau saja aku punya nomor hape mereka, sudah tentu kuhubungi. Menanyakan apakah mereka sebelumnya mendapat undangan atau idem seperti aku.

Oke, aku akan datang dan menanyakan langsung ke panitia undangan. Berharap ada kekeliruan pada namaku disana. Karena kalau ternyata (memang) namaku benar adanya di daftar undangan,…aku tidak tahu harus bagaimana.


Well, I decided to come…anyway. Sengaja aku datang dengan membawa kendaraan. Alasan “saya ada keperluan di tempat lain” boleh jadi cukup. :-D Memasuki pintu depan, aku menghampiri pria berseragam yang berdiri di dekat meja.

“Selamat pagi, Pak”, sapaku. “Selamat pagi”, jawabnya.

“Mau tanya, Pak. Di daftar undangan ini ada nama saya, tapi saya tidak mendapat surat undangan sama sekali. Ini maksudnya gimana?”, tanyaku sambil menunjuk namaku di kertas.

“Ooo…Mas ada di lajur kiri, ya?”, kata si bapak.

Dahiku berkerut. “Apalagi ini?”, batinku.
“Sebelumnya kami mohon maaf kalau Mas bingung. Nama-nama yang ada di lajur kiri, kami terima atas rekomen dari atas. Dan itu pun kami terima saat waktunya mepet sekali. Hampir tidak sempat untuk membuatkan undangan. Jadi kami putuskan memberi daftar ini langsung. Harap maklum”, jelas si bapak.
“Dari atas?”, tanyaku. Cicak kali, batinku.
“Iya”, jawab si bapak singkat.
“Siapa maksudnya, Pak?”, aku mulai penasaran.

Kulihat lagi nama-nama yang ada. Tidak ada kecocokan nalar dengan tujuan mencantumkan namaku disana.
“Ini. Yang ada di lajur kanan”, terang si bapak sambil menunjuk deretan nama di lajur paling kanan. Tampak nama-nama yang really have nothing to do with me.
Kugaruk kepalaku, meski tidak gatal.

“Berarti saya tidak harus datang dong?”, tanyaku lagi sambil melihat sekeliling. Tampak mulai banyak orang berdatangan.

“Ya…kalau bisa, kehadiran para undangan sangat kami harapkan. Menjadi kehormatan bagi kami”, jawab si bapak sambil tersenyum. Kuhela napas. Lumayan panjang.

Sambil manggut-manggut, aku utarakan alasanku untuk undur diri. Rekomen mendadak dengan jenis pertemuan yang -sama sekali- tidak kumengerti, lebih baik aku menyelesaikan urusanku sendiri dulu…
Saat pulang, aku ambil jalan memutar. Tidak boleh ber*** bukan berarti tidak boleh *e*a*, kan? :-D
Saat di belokan terakhir, aku terhenti. Kok gang kecil? Bukannya jalannya beraspal dan lebar? Truk pun muat malah. Tak mungkin keliru. Kepalang basah, kuparkir motorku. Meski nantinya aku bisa jadi malah balik lagi atau memutar jalan untuk mengambil kembali motorku, tak apalah.

Kususuri gang kecil itu. Suasana deretan rumah di kiri-kananku, mirip dengan gang kecil yang sering aku lewati semasa waktu masih kecil dulu. Seolah sudah mengenal sejak lama.

Ketika mendekati tujuan, kupelankan langkahku. Hei…kok jadi sunduk sate? Setauku tidak ada belokan ke kanan? Refleks aku memutar. Kebetulan sekali, pikirku. Aku bisa memutar, dan dari gang depan bisa langsung melihat rumahnya.

Benar, kaaannn… Tuh lagi liat tipi. Meski dari jauh, aku bisa liat dengan jelas.
Saat berbelok, tiba-tiba terdengar suara yang kukenal (plus, kangen :-D )
“Hayoooo…kalau jalan terus, pasti mau ketemu ama adeknya ya?”, suara itu. Beberapa hari ini sudah kunanti.
Sempat kaget, aku menoleh ke arah suara tadi berasal.
“Cuman lewat aja kok,” tukasku sambil tersenyum. Seraya kulanjutkan langkahku.

Suara itu, wajah itu…
Aku yakin ini mimpi. Yakin sekali.
Eh, jangan! Jangan sampai aku terbangun. Aku segera merogoh saku celanaku. Jangan ba…TRETET-TETET-TEETEEET-TERERENGG!
Suara  alarm hape yang lumayan keras membuatku terjaga.
Bad. Bad. Bad

Selalu begini. Aku tersenyum getir.
Pukul  01:05. Kunyalakan saklar air. Sambil menunggu air keran keluar, kucoba mereka-reka suara dan wajah tadi.

I couldn’t see you now. Even it didn’t  last for long. Even only in my dream. I’m still able to catch your voice,…and see your beautiful eyes.

No comments:

Post a Comment