Pages

Friday, November 4, 2011

trapped

“your unregretfulness definitely brings pain and I’m suffering coz of it, for sure…why don’t you kill me instead?”


Aku ingat pernah membaca apdet status tersebut dari akun fesbuk seorang teman lama. Sekilas, memang tampak biasa saja. Karena memang kencenderungan “lebay” jadi hal yang bisa di-lumrah-kan kala kita berfesbuk ria.
Nothing special at that time. Even when I decided to ask the thread starter. Yang punya status cuma tersenyum getir.
“Yang terakhir tu serius, dab?”, tanyaku.
“Apa yang kamu rasakan kalau kamu, merasa harus menata ulang kusen pintu yang sama sementara kamu bukan tukang bikin rumah?”, dia balik bertanya.

Sejenak aku mencoba mencerna pertanyaannya itu.
“Sabar?”, tukasku (sebenernya bukan nada bertanya, tapi tetap ketahuan)
“I doubt your limit”, dia menyeringai.
Meledaklah tawa kita. :-D
Limit.
a word that confines us, remark us,…
or, shortly describes that we are just human being.
Limit.
sering terpampang dalam benakku kala menghadapi situasi yang (benar-benar) tidak diharapkan.
Limit.
bahkan hujan yang turun pun seolah mengerti apa yang ada dalam perasaanku. Kuhentikan sejenak gerakan jemariku di atas papan tombol. Sudah lama aku tidak,…ah biarlah. Kuharap masih ada perkataanku yang diingatnya.
Ah, lebay :-D
God, I know you won’t let us to be tempted beyond our abilities.
dan seperti apa kata seorang pendo’a, Kau membuat ketidakleluasaan ini mudah untuk dihadapi.
“Instead of suicidal matter, menghindarimu bukanlah hal yang sulit. Namun untuk melupakanmu…benar-benar tidak bisa.”

No comments:

Post a Comment